One answer is that we read for the aesthetic and literary pleasure we experience while reading. The pleasure — or intended pleasure — of novels is obvious, but it is no less true that we read nonfiction for the immediate satisfaction it provides. The acquisition of knowledge, while you are acquiring it, can be intensely engrossing and stimulating, and a well-constructed argument is a beautiful thing. But that kind of pleasure is transient. When we read a serious book, we want to learn something, we want it to change us, and it hardly seems possible for that to happen if its fugitive content passes through us like light through glass.
Monday, September 20, 2010
Kita Membaca Karena Lupa
Mengapa kita membaca sebuah buku? Bahkan berkali-kali membaca buku yang sama? Menurut pengalaman James Collins, itu terjadi karena kita lupa. Demikian pendapatnya dalam esai "The Plot Escapes Me" di The New York Times, 17 September 17 2010:
Wednesday, August 11, 2010
Thursday, July 29, 2010
Tabung Gas Paling Berbahaya di Dunia
Hidup di Indonesia memang mengerikan. Tidak keluar rumah saja orang bisa mati. Itulah yang dialami korban-korban ledakan tabung melon, tabung LPG ukuran tiga kilogram, yang beberapa pekan terakhir ini membetot perhatian kita.
Pemerintah akan segera menarik peredaran tabung gas yang tak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), yang diperkirakan sebanyak 9 juta. Tapi, langkah ini sudah terlambat. Korban sudah berjatuhan cukup banyak setelah hampir setiap hari ledakan tabung gas itu terjadi.
Setelah penarikan itu, apa masalahnya selesai?
Tidak bagi tetangga saya. Mereka sudah terlanjur trauma. Keluarga dengan dua orang anak itu kini praktis tak berani menyentuh tabung gas. Sang ibu belanja makan dan minum ke warung. Bahkan, untuk sekadar menyeduh kopi untuk suaminya, dia membeli air panas di warung juga. Kadangkala mereka anak beranak makan bakso bersama di tukang bakso yang parkir di tikungan.
Pemerintah tampaknya tak mampu memenuhi hak paling dasar bagi rakyatnya: rasa aman. Bahkan, rasa aman di dapur dan rumah kita sendiri pun tidak bisa mereka dijamin. Lantas, apa saja yang dilakukan SBY dan para menterinya itu?
Pemerintah akan segera menarik peredaran tabung gas yang tak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), yang diperkirakan sebanyak 9 juta. Tapi, langkah ini sudah terlambat. Korban sudah berjatuhan cukup banyak setelah hampir setiap hari ledakan tabung gas itu terjadi.
Setelah penarikan itu, apa masalahnya selesai?
Tidak bagi tetangga saya. Mereka sudah terlanjur trauma. Keluarga dengan dua orang anak itu kini praktis tak berani menyentuh tabung gas. Sang ibu belanja makan dan minum ke warung. Bahkan, untuk sekadar menyeduh kopi untuk suaminya, dia membeli air panas di warung juga. Kadangkala mereka anak beranak makan bakso bersama di tukang bakso yang parkir di tikungan.
Pemerintah tampaknya tak mampu memenuhi hak paling dasar bagi rakyatnya: rasa aman. Bahkan, rasa aman di dapur dan rumah kita sendiri pun tidak bisa mereka dijamin. Lantas, apa saja yang dilakukan SBY dan para menterinya itu?
Sunday, April 18, 2010
Friday, March 26, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
Searching...

Custom Search