Showing posts with label Literature. Show all posts
Showing posts with label Literature. Show all posts

Monday, September 20, 2010

Kita Membaca Karena Lupa

Mengapa kita membaca sebuah buku? Bahkan berkali-kali membaca buku yang sama? Menurut pengalaman James Collins, itu terjadi karena kita lupa. Demikian pendapatnya dalam esai "The Plot Escapes Me" di The New York Times, 17 September 17 2010:

One answer is that we read for the aesthetic and literary pleasure we experience while reading. The pleasure — or intended pleasure — of novels is obvious, but it is no less true that we read nonfiction for the immediate satisfaction it provides. The acquisition of knowledge, while you are acquiring it, can be intensely engrossing and stimulating, and a well-constructed argument is a beautiful thing. But that kind of pleasure is transient. When we read a serious book, we want to learn something, we want it to change us, and it hardly seems possible for that to happen if its fugitive content passes through us like light through glass.

Wednesday, October 07, 2009

Buket Biru oleh Octavio Paz


Tak ada masyarakat tanpa puisi, tapi masyarakat tak pernah bisa dipahami sebagai puisi, karena dia tidak puitik. Kadangkala dua istilah itu berusaha bercerai, tapi tak bisa.

Octavio Paz Lozano (31 Maret 1914-19 April 1998) adalah pengarang dan diplomat Meksiko yang menjadi pemenang Nobel Sastra pada 1990. Semula dia penganut komunisme, lalu berubah menjadi kiri demokrat "liberal".

Berikut ini salah satu cerita pendeknya yang dimuat di Minggu Pagi No. 16 Th. 55 Minggu III, Juli 2002.


Tuesday, October 06, 2009

Kebohongan by Nawal el-Sadawi

Nawal el-Sadawi adalah seorang sastrawan wanita Mesir yang karya-karyanya telah mampu menembus batas-batas dunia. Tulisan-tulisannya sebagian besar mengangkat persoalan-persoalan perempuan (feminis). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Seperti: Perempuan di Titik Nol, Matinya Sang Penguasa, Memoar Seorang Dokter Perempuan, serta Catatan dari Penjara Perempuan

Berikut ini salah stu cerita pendeknya yang pernah dimuat Republika hampir satu dekade lalu.


Monday, October 05, 2009

Njoto dan Puisi Cak

Majalah Tempo edisi pekan ini menurunkan laporan khusus tentang Njoto, Wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia. Selain jago meniup saksofon, Njoto juga pandai menulis puisi.

Di bawah ini saya salin salah satu puisinya yang dimuat di Harian Rakjat pada tahun 1962. Puisi ini juga masuk dalam Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan dan terbit pada September 2008.

Selamat menikmati...


Variasi Cak

Cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak
penari-petani menari
di Blahbatu sini
mata menari perut menari
menuntut merdeka dan nasi
cak-cak
cak-cak-cak-cak
satu bedil
satu cangkul
cak-cak
cak-cak-cak-cak
imperialisme
kananbaru
feodalisme
sikepalabatu
kita tinju
satu persatu
cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak

Blahbatu, Maret 1962

Wednesday, August 05, 2009

Tanpa Nasib oleh Imre Kertész

(Kompas, Minggu, 02 Maret 2003)

Penggalan dari novel Fateless (Illinois: Northwestern UP, 1992, hlm183-191) karya Imre Kertész, pemenang Nobel Sastra 2002.

----------------

SETELAH beberapa langkah maju ke depan, tampak bangunan yang sangat kukenal. Di situ kami tinggal. Masih berdiri utuh seluruhnya dalam bentuk yang bagus. Begitu melewati gerbang depan, aroma lama itu tak berubah. Lift ringkih dengan pintu berkisi-kisi dan bekas jejak kaki kekuningan menyambutku. Berjalan sedikit ke atas sempat kubalas sapa seorang penghuni apartemen yang sedang turun. Itu kebiasaan bertetangga yang menghangatkan. Sampai di lantai tempat tinggal kami, aku pencet bel. Cepat sekali pintu itu dibuka tapi hanya sedikit, terganjal oleh kunci rantai. Itu agak mengherankanku. Seingatku dulu tak ada rantai pencegah di pintu. Wajah tak kukenal muncul di celah itu. Seorang perempuan dengan tulang pipi menonjol, kuning, setengah baya, menatapku. Ia tanya aku cari siapa, dan kujawab, "Aku tinggal di sini." "Tidak mungkin," jawabnya, "kamilah yang tinggal di sini." Dia sudah hampir menutup pintu tapi tak bisa, karena kutahan dengan kakiku. Kucoba menjelaskan padanya, "Pasti ada salah pengertian. Terakhir kali dulu saya pergi meninggalkan tempat ini, dan saya yakin kami sungguh-sungguh tinggal di sini." Dia sebaliknya terus mendesak bahwa justru akulah yang keliru. Sebab, sudah sangat jelas mereka memang tinggal di situ. Dengan gerak kepala yang sopan dan simpatik, melembutkan otot muka, ia berusaha menutup pintu. Aku masih berusaha mencegahnya. Lalu, aku coba melongok nomor rumah untuk memastikan bahwa memang bukan aku yang keliru. Tapi, dia berhasil menutup pintu. Pasti kakiku tadi terselip lepas dari celah itu. Ia menutup pintu dengan keras dan menguncinya dua kali.

Friday, July 31, 2009

Di Hadapan Hukum oleh Franz Kafka

DI HADAPAN berdiri seorang penjaga pintu. Kepada penjaga ini datanglah seorang lelaki dari dusun dan berdoa meminta ijin masuk ke dalam Hukum. Tapi penjaga pintu itu mengatakan bahwa dia tak bisa memberikan izin masuk saat itu. Lelaki itu mengira Hukum sudah tutup dan bertanya apakah dia akan diizinkan masuk nanti. "Mungkin saja," jawab sang penjaga, "tapi tidak saat ini."

Thursday, July 30, 2009

Senja Ungu

Oleh Aulia Andri

Surat beramplop putih agak kekuningan itu diantar bersama dengan setumpuk surat-surat lainnya. Terselip, terhimpit surat-surat dinas untuk pak Lurah. Pasti tak ada yang istimewa dari surat itu. Lihatlah warna amplopnya yang putih sudah agak kekuningan. Pasti surat itu sudah terlampau lama ditumpuk di kantor pos. Juga prangko yang tertempel di sudut kanannya, sudah hampir terkelupas dan fashionable.

Friday, January 23, 2009

Puisi Alexander untuk Barack Obama

Elizabeth Alexander, profesor studi Afrika Amerika di Yale University dan teman pribadi Barack Obama, membacakan sebuah puisi bertajuk "Praise Song for the Day" di hadapan jutaan orang dalam acara pelantikan Obama sebagai presiden pada 20 Januari lalu.

Tapi, orang tampaknya lebih terkesan pada puisi Maya Angelou, The Pulse of Morning", pada pelantikan Bill Clinton, dan Robert Frost, yang membacakan "The Gift Outright" pada pelantikan John F Kennedy. Puisi Alexander kurang diapresiasi. Los Angeles Times menyebutnya "kurang layak dipuji" dan The New Republic menyebutnya "birokratis". Bahkan, ada yang memberinya nilai D-.

Thursday, November 06, 2008

Michael Crichton dan Pemanasan Global

Hari ini Michael Crichton, pengarang yang mengunyah sushi ketika menulis Jurassic Park, meninggal dunia. Saya mengingatnya sebagai salah satu penulis yang menggali sejarah pengetahuan manusia tentang mahluk asing (alien) dan dengan sangat serius membuktikan bahwa alien adalah penyebab pemanasan global (global warming). Itulah kuliahnya di Caltech Michelin Lecture, 17 Januari 2003.

Monday, August 04, 2008

Tentang Pengarang Besar

Saya mengenang Bung, karena Bung pernah mengatakan demikian:


"Seorang pengarang besar adalah pemerintah kedua di negerinya. Dan untuk alasan itu tak ada rezim yang mencintai pengarang-pengarang besar, tapi hanya menyukai pengarang kecil."


Friday, November 11, 2005

Taufik dan Acep Iwan Saidi

Saya menerima sepucuk email tertanggal 28 Oktober 2005 dari seseorang bernama Taufik. Dia ingin menghubungi Acep Iwan Saidi, sastrawan Bandung, yang menulis soal Nietzsche di Pikiran Rakyat. Sayangnya, Bung Taufik, saya tak dapat membantu Anda menghubungkan dengan Bung Acep. Ada baiknya Anda menghubungi redaksi Pikiran Rakyat. Terima kasih.

Puisi Miranda Risang Ayu

Miranda mengemail saya dan mengatakan bahwa puisi Doa Perempuan di situs Sajak-sajak Tanah Air yang diambil dari Republika Online (8/11/1998) itu keliru pemenggalannya. Dia lantas mengirimkan naskah aslinya "yang benar pemenggalan kalimatnya, sehingga memiliki ritme yang lebih mudah diikuti dan enak dibaca, dan benar penulisan huruf kecil dan huruf kapitalnya."


Terima kasih, Puan Miranda. Pembaca, silahkan Anda baca naskah Doa Perempuan itu.

Mengapa Mudik?

Berbeda dari teman-temannya kostnya yang lain, setiap lebaran Triana, mahasiswi semester terakhir sebuah universitas negeri di Bandung, mudik ke Kampung Melayu, Jakarta. Jakarta baginya bukanlah sebuah ruang yang bermakna kampung halaman seperti dalam lagu Ibu Sud. Ia tak punya ikatan dan kenangan apapun dengan kota besar itu. "Saya berasumsi bahwa kampung halaman menjadi penting sejak mitos masyarakat agraris (darat) diciptakan Belanda, dan ini terutama terjadi di Jawa. Tanah kelahiran menjadi pusaka," kata Acep Iwan Saidi, kritikus sastra kelahiran Bogor yang merayakan lebaran di kampung istrinya di Pangandaran. Dan, saya tidak mudik tahun ini :). Selamat mudik dan selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Tabik!

Thursday, May 05, 2005

Puisi Tersedih Neruda

XX



Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Menulis, misalkan: "Malam penuh bintang,

dan bintang-bintang, biru, menggigil di kejauhan."

Angin malam berpusing di langit dan bernyanyi.

Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Aku mencintainya, dan kadang dia mencintaiku juga.

Pada malam seperti ini, aku peluk dia dalam rengkuhku.

Kucium dia berkali-kali di bawah langit tak terbatas.

Dia mencintaiku, kadang aku mencintainya.

Bagaimana bisa aku tak sangat mencintainya, mata yang tenang?

Aku dapat menulis puisi tersedih dari segalanya malam ini.

Berpikir aku tak memilikinya. Merasa aku kehilangan dia.

Mendengar keluasan malam, lebih luas tanpa dia.

Dan puisi itu jatuh ke jiwa seperti embun ke rumputan.

Apa yang terjadi hingga cintaku tak mampu menjaganya.

Malam penuh bintang dan dia tak bersamaku.

Begitulah. Nun, seseorang bernyanyi. Nun.

Jiwaku lenyap tanpanya.

Andai dia dekat, mataku mencarinya.

Hatiku mencarinya dan dia tak bersamaku.

Malam yang sama memutihkan pepohonan yang sama.

Kami, kami dulu, kami kini tak sama lagi.

Aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi betapa besar cintaku padanya.

Suaraku mengejar angin untuk menyentuh telinganya.

Milik orang lain. Dia akan menjadi milik orang lain. Seperti dia sekali waktu milik ciumanku.

Suaranya, tubuh ringannya. Mata tak terbatasnya.

Aku tak lagi mencintainya, sungguh, tapi barangkali aku mencintainya.

Cinta itu begitu pendek dan lupa begitu panjang.

Karena pada malam seperti ini aku memeluknya di rengkuhku,

jiwaku lenyap tanpanya.

Walau ini mungkin luka terakhir yang dibuatnya padaku,

dan ini mungkin puisi terakhir kubuat untuknya.

[Dinukil dari Pablo Neruda, Veinte poemas de amor]

Saturday, November 27, 2004

Beremas/Bermaafan

Saya kutipkan sebuah pantun Melayu lama , Beremas/Bermaafan :


Pucuk pauh delima lah batu

Anak sembilan tangan di tapak lah tangan

Tuan lah jauh negeri yang satu

Hilang di mata di hati lah jangan

Lepas bermas beremas lah pula

Emas sekupang dibagi lah lima

Lepas bermaaf bermaaf lah pula

Maaf lah seorang bermaaf lah semuanya

Mohon maaf lahir batin.

Tabik.

Monday, January 05, 2004

Kutukan Diah Ayu

Itu hari paling kelabu dalam sejarah kolonial. 142 orang Belanda totok mati dalam sehari pada 1878. Pelakunya Diah Ayu si tukang masak. Surat kabar saat itu hanya melaporkan mengenai "kematian-kematian wajar yang mencurigakan" di sekitar Batavia. Itulah Kutukan Dapur kata Eka Kurniawan.

Monday, November 03, 2003

Surat-E kepada L.M.

Ah, kamu

Telah kukirim semiliar cahaya

kunang ke haribanmu

Semuanya tak kembali, tak berkabar...

Apatah yang sesungguhnya terjadi di balik tabir mentari?

Wednesday, October 01, 2003

Sastra, Dukun, Dokter

Dalam kritik sastra Indonesia belum banyak studi tentang motif penyakit dan pengobatan dilakukan, tapi ada beberapa tulisan singkat mengenainya. Misalnya, dua peneliti Belanda, de Josselin de Jong dan Jordaan, meneliti motif penyakit dalam teks-teks klasik dan menginterpretasikan bahwa teks-teks yang menggambarkan seorang raja kena penyakit merupakan sebuah bentuk kritik politik. Dalam sebuah artikel di jurnal RIMA, Australia, Helen Pausacker dan Charles A Coppel membahas hubungan antara cinta, penyakit, dan citra perempuan dalam novel-novel Melayu Pasar karya para pengarang Tionghoa Peranakan. Katrin Bendel memulai studinya tentang Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia.

Monday, March 24, 2003

Ilustrator Kentardjo Wafat

Perupa otodidak Kentardjo, 82 tahun, wafat pada Sabtu, 8 Maret pukul 05.00 di Panti Wredha Abiyasa, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Dia ilustrator pertama yang menciptakan prototipe Mahesa Jenar dalam cerbung Nagasasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja di Kedaulatan Rakyat dan cerita buku yang diterbitkan PT BP Kedaulatan Rakyat. Dia juga menggarap ilustrasi cerbung Suramnya Bayang-bayang dan Api di Bukit Menoreh. Perupa seangkatan Affandi dan Soedjojono ini mulai aktif sebagai pegrafis pada majalah Panjebar Semangat, Surabaya, pada 1938. beritanya.

Meninggalnya A.A. Navis

Ali Akbar Navis (79), Sabtu dini hari, sekitar pukul 05.00 WIB, di RS Yos Sudarso Padang, akibat penyakit paru-paru. Pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924, itu terkenal lewat cerpen, "Robohnya Surau Kami", di Horison yang mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik pada 1995. Buku pertama Navis adalah kumpulan cerpen dengan judul cerpen tersebut pada 1956. Lulusan INS Kayutanam 1943 ini juga menulis buku Cerita Rakyat Sumatera Barat 2 dan sejumlah artikel budaya. Dia menerima sejumlah penghargaan, seperti dari Radio Nedherland untuk cerpen "Jodoh" pada sayembara cerpen Kincir Emas (1975), Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1992), Anugerah SEA Award dari Kerajaan Thailand (1992), Anugerah Buku Utama dari UNESCO (1999) atas buku "Cerita Rakyat Sumatera Barat 2", dan Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI (2002). Obituari.

Searching...

Custom Search