Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Wednesday, July 02, 2008

Senyum Metafisis

Siapakah Kafka? Entahlah. Sebagian pemujanya mungkin menganggap dia sastrawan ajaib yang membawa tongkat sulap ke mana-mana. Bagaimana pendapat pengarang lain? Ada banyak versinya. Ini sebagian di antaranya :



Ini seperti dia telah menghabiskan seluruh hidupnya dengan terheran-heran membayangkan seperti apa dirinya, tanpa pernah menemukan bahwa ada benda-benda seperti cermin.
(Walter Benjamin)



Seorang lelaki telanjang di antara orang banyak yang berpakaian.
(Mi-lena Jesenska)



Pikiran yang hidup dalam dosa dengan hati Ibrahim.
(Erich Heller)



Franz adalah seorang santo
(Felice Bauer)



Ada jenis senyum baru yang membedakan karya Kafka, sebuah senyum yang dekat dengan hal-hal ultim--sebuah senyum metafisis, begitu sebutannya...

(Max Brod, sahabat Kafka)



Friday, June 27, 2008

Hantu Baudrillard (2)

Imajinasi Hiperrealitas


Arthur Kroker, editor jurnal Ctheory, menyatakan dukanya dengan mempersembahkan serangkaian artikel oleh dan tentang Baudrillard di jurnalnya yang didedikasikan bagi diskusi pascamodernisme itu.


"Jika kita berduka atas kematian Jean Baudrillard," tulis Kroker, "itu juga dengan pengakuan bahwa kehadiran intelektualnya di dunia selalu ada lewat pernyataan dininya bahwa abad keduapuluh satu pasti akan terbabar tepat seperti yang dia gambarkan -- sebuah kegemparan besar politik atas prinsip-prinsip realitas yang saling tertarik dan bertentangan satu sama lain."

Hantu Baudrillard (1)

Perang Teluk tak pernah terjadi, kata dia.


Dunia pascamodernisme berduka cita ketika Michel Delorme, direktur Galilee dan penerbit Baudrillard, mengumumkan bahwa filsuf kontemporer Prancis, Jean Baudrillard, telah wafat dalam usia 77 tahun pada 7 Maret 2007 di Paris. Baudrillard meninggal setelah lama berjuang melawan kanker.


Berhadapan dengan duka, biasanya kita mencoba mengingat lampau. Tapi, filsuf berwajah bundar dan berkacamata tebal-besar itu seringkali terkesan misterius. Dia menolak mengungkap masa lalunya dan sering menjawab pertanyaan tentang sejarah pribadinya dengan kalimat pendek, "Tak ada latar belakang."

Friday, November 11, 2005

Taufik dan Acep Iwan Saidi

Saya menerima sepucuk email tertanggal 28 Oktober 2005 dari seseorang bernama Taufik. Dia ingin menghubungi Acep Iwan Saidi, sastrawan Bandung, yang menulis soal Nietzsche di Pikiran Rakyat. Sayangnya, Bung Taufik, saya tak dapat membantu Anda menghubungkan dengan Bung Acep. Ada baiknya Anda menghubungi redaksi Pikiran Rakyat. Terima kasih.

Mengapa Mudik?

Berbeda dari teman-temannya kostnya yang lain, setiap lebaran Triana, mahasiswi semester terakhir sebuah universitas negeri di Bandung, mudik ke Kampung Melayu, Jakarta. Jakarta baginya bukanlah sebuah ruang yang bermakna kampung halaman seperti dalam lagu Ibu Sud. Ia tak punya ikatan dan kenangan apapun dengan kota besar itu. "Saya berasumsi bahwa kampung halaman menjadi penting sejak mitos masyarakat agraris (darat) diciptakan Belanda, dan ini terutama terjadi di Jawa. Tanah kelahiran menjadi pusaka," kata Acep Iwan Saidi, kritikus sastra kelahiran Bogor yang merayakan lebaran di kampung istrinya di Pangandaran. Dan, saya tidak mudik tahun ini :). Selamat mudik dan selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Tabik!

Wednesday, January 21, 2004

Demokrasi Tanpa Demokrat

Sosiolog Ralf Dahrendorf dalam artikel Democracy Without Democrats menilai definisi Popper tentang demokrasi tidaklah membantu ketika ia berhadapan dengan pertanyaan apa jadinya jika yang digusur dari kekuasaan percaya akan demokrasi, sedangkan mereka yang menggantikannya tidak? Apa jadinya, dengan kata lain, jika orang-orang "yang salah" terpilih?.

Monday, January 05, 2004

Membunuh Freud

Dengan Interpretation of Dreams, Freud telah menarik sains jatuh ke dalam lenggangan mistiknya. Yap, kemenangan Freud telah menjadi bencana. Psikonalisa telah mensubversi hakikat rasionalitas Barat, mengganti sebuah wacana haram jadah bagi konvensi dialog yang menghargai fakta yang dipelihara peradaban sejak Socrates. Todd Dufresne mencoba mengidentifikasi ekses pascastrukturalisme dan pascamodernisme dalam Killing Freud: 20th-century culture and the death of psychoanalysis.

Monday, January 20, 2003

Etika Global

Hans Kung menyatakan tak akan ada tatanan baru tanpa sebuah etika dunia yang baru; sebuah etika global. Ia mendefinisikan etika global sebagai sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan oleh semua sistem kepercayaan (agama) meskipun terdapat perbedaan dogmatis, dan yang sesungguhnya bisa juga disumbangkan oleh kaum non-beriman (ateis). Lalu, bagaimana mencapai konsesus itu untuk membangun etika global?.

Monday, January 06, 2003

Bahasa, Faktor Pembeda Manusia?

Faktor apa yang membedakan manusia dari binatang? Berabad-abad para pemikir menyimpulkan bahwa budaya, terutama bahasa, adalah faktor pembedanya. Persoalannya, sejumlah penelitian hati-hati terhadap sejumlah jenis binatang beberapa waktu belakangan ini menunjukkan bahwa binatang juga berbudaya dan berbahasa. Ahli bahasa Amerika, Noam Chomsky, berkolaborasi dengan dua biolog Harvard, Marc Hauser dan W. Tecumseh Fitch, mencoba membuktikan bahwa manusia masih berbeda dalam hal bahasa dalam artikel di Science, "The Faculty of Language: What Is it, Who Has It, and How Did It Evolve?", naskah pertama Chomsky tentang evolusi bahasa. Benarkah bahasa faktor pembedanya?.

Friday, June 01, 2001

Mortimer J. Adler, Sang Ensiklopedis itu Telah Pergi

Koran Tempo, 1 Juni 2001

Mortimer J. Adler, pendidik dropout SMA yang menjadi filsuf di usia 15 tahun itu, telah meninggal dunia, Kamis (28/6/2001), di kediamannya, San Mateo, California, Amerika Serikat.

Orang mengenalnya sebagai editor kepala Encyclopedia Britannica, ensiklopedi paling dihormati di dunia pemikiran dan pendidikan. Tapi, dia juga pelopor gerakan pendidikan liberal. Dia melakukan revolusi pemikiran di Amerika dengan menekankan bahwa membaca karya-karya agung (great books) adalah kunci memahami kondisi manusia.

Thursday, October 30, 1997

Wacana Foucault: Mari Berfilsafat Tanpa Hegel (Tentang Wacana Seksualitas dan Kuasa)

0. Pengantar.
0.0. Tulisan ini barulah sebuah outline, garis besar, yang itu pun masih kabur, belum selesai, yang saya tulis ketika tertarik pada pikiran-pikiran Michael Foucault. Tentu saja ada banyak hal yang seharusnya diuraikan, tapi dorongan untuk melakukannya belum sampai ke ubun-ubun saya, sehingga tinggallah tulisan ini masih menganga seperti hendak memasak rendang tapi bumbunya belum lengkap dan dagingnya masih berceceran. Kalaupun tulisan ini saya letakkan di sini semata-mata agar terdokumentasi (ada banyak coretan-coretan serupa yang tercecer entah di mana) dan saya harap suatu kali dorongan untuk meneruskannya sampai ke ubun-ubun dan pena saya angkat.

Thursday, September 26, 1996

Diskursus Nasionalisme: Artefak Masa Lalu di Panggung Masa Kini

oleh KURNIAWAN[i]

Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?

(Rendra)[ii]


PENGALAMAN sejarah dan kegugupan menatap masa depan, nun dimana sebuah bendera WTO berkibar, mengusik tidur nyenyak negara makmur dan menggelisahkan negara-negara yang baru bersusah payah mendorong laju perekonomiannya. Dalam matra politik, refleksi terhadap negara dan bangsa dalam konteks dunia mendapat tempat dalam agenda tiap negara, tak terkecuali Indonesia. Mereka dipaksa kembali merenungkan dirinya, sejarahnya, dan cita-citanya. Nasionalisme sebagai sebuah tema muncul kembali dalam kaitannya dengan banyak aspek, baik ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan. Dalam diskursus nasionalisme, muncul pro dan kontra terhadap kekuatan dan relevansinya untuk masa ini yang membuahkan sikap pesimisme dan optimisme. Tulisan ini mencoba menelusuri kembali makna nasionalisme dalam lintasan sejarah (terutama Indonesia) untuk selanjutnya melihat sejauh mana relevasnsinya bagi Indonesia sekarang.

Searching...

Custom Search