Wednesday, October 01, 2003
Weapons of Mass Destruction
American Dialect Society memilih "weapons of mass destruction" sebagai kata-kata tahun 2002 dalam pertemuannya di Atlanta. Kata-kata lainnya adalah "wombanization" (sinonim dengan feminization), "Neuticles" (merek biji kemaluan palsu untuk binatang peliharaan tanpa gender), "Blog" (catatan pribadi yang ditampilkan di Web), dan "Iraqnaphobia" (kecemasan terhadap perang melawan Irak).
Sastra, Dukun, Dokter
Dalam kritik sastra Indonesia belum banyak studi tentang motif penyakit dan pengobatan dilakukan, tapi ada beberapa tulisan singkat mengenainya. Misalnya, dua peneliti Belanda, de Josselin de Jong dan Jordaan, meneliti motif penyakit dalam teks-teks klasik dan menginterpretasikan bahwa teks-teks yang menggambarkan seorang raja kena penyakit merupakan sebuah bentuk kritik politik. Dalam sebuah artikel di jurnal RIMA, Australia, Helen Pausacker dan Charles A Coppel membahas hubungan antara cinta, penyakit, dan citra perempuan dalam novel-novel Melayu Pasar karya para pengarang Tionghoa Peranakan. Katrin Bendel memulai studinya tentang Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia.
Thursday, May 01, 2003
Hegemoni Keraton Yogyakarta
Hegemoni kekuasaan Keraton Yogyakarta dimulai ketika belum terbentuk kesadaran kritis individu yakni saat sultan mengangkat 45 jurukunci untuk menjaga situs Parangkusumo yang diyakini sebagai tempat pertemuan Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati. Artikel.
Monday, March 24, 2003
Ilustrator Kentardjo Wafat
Perupa otodidak Kentardjo, 82 tahun, wafat pada Sabtu, 8 Maret pukul 05.00 di Panti Wredha Abiyasa, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Dia ilustrator pertama yang menciptakan prototipe Mahesa Jenar dalam cerbung Nagasasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja di Kedaulatan Rakyat dan cerita buku yang diterbitkan PT BP Kedaulatan Rakyat. Dia juga menggarap ilustrasi cerbung Suramnya Bayang-bayang dan Api di Bukit Menoreh. Perupa seangkatan Affandi dan Soedjojono ini mulai aktif sebagai pegrafis pada majalah Panjebar Semangat, Surabaya, pada 1938. beritanya.
Meninggalnya A.A. Navis
Ali Akbar Navis (79), Sabtu dini hari, sekitar pukul 05.00 WIB, di RS Yos Sudarso Padang, akibat penyakit paru-paru. Pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924, itu terkenal lewat cerpen, "Robohnya Surau Kami", di Horison yang mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik pada 1995. Buku pertama Navis adalah kumpulan cerpen dengan judul cerpen tersebut pada 1956. Lulusan INS Kayutanam 1943 ini juga menulis buku Cerita Rakyat Sumatera Barat 2 dan sejumlah artikel budaya. Dia menerima sejumlah penghargaan, seperti dari Radio Nedherland untuk cerpen "Jodoh" pada sayembara cerpen Kincir Emas (1975), Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1992), Anugerah SEA Award dari Kerajaan Thailand (1992), Anugerah Buku Utama dari UNESCO (1999) atas buku "Cerita Rakyat Sumatera Barat 2", dan Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI (2002). Obituari.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Searching...
Custom Search