Thursday, October 30, 1997

Wacana Foucault: Mari Berfilsafat Tanpa Hegel (Tentang Wacana Seksualitas dan Kuasa)

0. Pengantar.
0.0. Tulisan ini barulah sebuah outline, garis besar, yang itu pun masih kabur, belum selesai, yang saya tulis ketika tertarik pada pikiran-pikiran Michael Foucault. Tentu saja ada banyak hal yang seharusnya diuraikan, tapi dorongan untuk melakukannya belum sampai ke ubun-ubun saya, sehingga tinggallah tulisan ini masih menganga seperti hendak memasak rendang tapi bumbunya belum lengkap dan dagingnya masih berceceran. Kalaupun tulisan ini saya letakkan di sini semata-mata agar terdokumentasi (ada banyak coretan-coretan serupa yang tercecer entah di mana) dan saya harap suatu kali dorongan untuk meneruskannya sampai ke ubun-ubun dan pena saya angkat.

Thursday, September 26, 1996

Diskursus Nasionalisme: Artefak Masa Lalu di Panggung Masa Kini

oleh KURNIAWAN[i]

Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?

(Rendra)[ii]


PENGALAMAN sejarah dan kegugupan menatap masa depan, nun dimana sebuah bendera WTO berkibar, mengusik tidur nyenyak negara makmur dan menggelisahkan negara-negara yang baru bersusah payah mendorong laju perekonomiannya. Dalam matra politik, refleksi terhadap negara dan bangsa dalam konteks dunia mendapat tempat dalam agenda tiap negara, tak terkecuali Indonesia. Mereka dipaksa kembali merenungkan dirinya, sejarahnya, dan cita-citanya. Nasionalisme sebagai sebuah tema muncul kembali dalam kaitannya dengan banyak aspek, baik ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan. Dalam diskursus nasionalisme, muncul pro dan kontra terhadap kekuatan dan relevansinya untuk masa ini yang membuahkan sikap pesimisme dan optimisme. Tulisan ini mencoba menelusuri kembali makna nasionalisme dalam lintasan sejarah (terutama Indonesia) untuk selanjutnya melihat sejauh mana relevasnsinya bagi Indonesia sekarang.

Searching...

Custom Search