Konon ada seorang anak penyamun yang menjadi raja di Singasari. Namanya Ken Angrok. Kisahnya terlukis cukup rinci dalam bab pertama kitab Pararaton atau Kitab Raja-raja. Semacam babad prosa yang diperkirakan ditulis sekitar abad ke-16 M.
Friday, July 30, 1999
Saturday, May 01, 1999
Semangat Mei
"Semua orang tahu mengapa esok hari itu penting: besok adalah peringatan 70 tahun Gerakan Empat Mei, gerakan kepemimpinan politis mahasiswa dalam sejarah modern Cina. Kami semua bekerja dengan semangat khusus sehingga reli kami dapat tegak sebagai signifikansi sejarah hari itu. Hebatnya, mesin mimeograf kami mencetak 100.000 liflet, dan sorenya beberapa pimpinan mahasiswa dan intelektual --Wang Chaohua, Feng Congde, Wuer Kaixi (yang muncul kembali setelah beberapa hari bersembunyi), Zhou Yongjun, Lao he, dan Liu Xiaubao, seorang dosen Beijing Normal yang baru kembali dari Amerika untuk bergabung dengan gerakan ini-- berkumpul di pusat pemberitaan untuk membuat draf sebuah deklarasi yang akan dibacakan di lapangan Tiananmen. Draf akhir selesai pada pukul 3 dini hari, menyerukan demokrasi di kampus-kampus dan seluruh Cina," catat Shen Tong dalam memoarnya, Almost A Revolution.
Thursday, October 30, 1997
Wacana Foucault: Mari Berfilsafat Tanpa Hegel (Tentang Wacana Seksualitas dan Kuasa)
0. Pengantar.
0.0. Tulisan ini barulah sebuah outline, garis besar, yang itu pun masih kabur, belum selesai, yang saya tulis ketika tertarik pada pikiran-pikiran Michael Foucault. Tentu saja ada banyak hal yang seharusnya diuraikan, tapi dorongan untuk melakukannya belum sampai ke ubun-ubun saya, sehingga tinggallah tulisan ini masih menganga seperti hendak memasak rendang tapi bumbunya belum lengkap dan dagingnya masih berceceran. Kalaupun tulisan ini saya letakkan di sini semata-mata agar terdokumentasi (ada banyak coretan-coretan serupa yang tercecer entah di mana) dan saya harap suatu kali dorongan untuk meneruskannya sampai ke ubun-ubun dan pena saya angkat.
0.0. Tulisan ini barulah sebuah outline, garis besar, yang itu pun masih kabur, belum selesai, yang saya tulis ketika tertarik pada pikiran-pikiran Michael Foucault. Tentu saja ada banyak hal yang seharusnya diuraikan, tapi dorongan untuk melakukannya belum sampai ke ubun-ubun saya, sehingga tinggallah tulisan ini masih menganga seperti hendak memasak rendang tapi bumbunya belum lengkap dan dagingnya masih berceceran. Kalaupun tulisan ini saya letakkan di sini semata-mata agar terdokumentasi (ada banyak coretan-coretan serupa yang tercecer entah di mana) dan saya harap suatu kali dorongan untuk meneruskannya sampai ke ubun-ubun dan pena saya angkat.
Thursday, September 26, 1996
Diskursus Nasionalisme: Artefak Masa Lalu di Panggung Masa Kini
oleh KURNIAWAN[i]
PENGALAMAN sejarah dan kegugupan menatap masa depan, nun dimana sebuah bendera WTO berkibar, mengusik tidur nyenyak negara makmur dan menggelisahkan negara-negara yang baru bersusah payah mendorong laju perekonomiannya. Dalam matra politik, refleksi terhadap negara dan bangsa dalam konteks dunia mendapat tempat dalam agenda tiap negara, tak terkecuali Indonesia. Mereka dipaksa kembali merenungkan dirinya, sejarahnya, dan cita-citanya. Nasionalisme sebagai sebuah tema muncul kembali dalam kaitannya dengan banyak aspek, baik ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan. Dalam diskursus nasionalisme, muncul pro dan kontra terhadap kekuatan dan relevansinya untuk masa ini yang membuahkan sikap pesimisme dan optimisme. Tulisan ini mencoba menelusuri kembali makna nasionalisme dalam lintasan sejarah (terutama Indonesia) untuk selanjutnya melihat sejauh mana relevasnsinya bagi Indonesia sekarang.
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
(Rendra)[ii]
PENGALAMAN sejarah dan kegugupan menatap masa depan, nun dimana sebuah bendera WTO berkibar, mengusik tidur nyenyak negara makmur dan menggelisahkan negara-negara yang baru bersusah payah mendorong laju perekonomiannya. Dalam matra politik, refleksi terhadap negara dan bangsa dalam konteks dunia mendapat tempat dalam agenda tiap negara, tak terkecuali Indonesia. Mereka dipaksa kembali merenungkan dirinya, sejarahnya, dan cita-citanya. Nasionalisme sebagai sebuah tema muncul kembali dalam kaitannya dengan banyak aspek, baik ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan. Dalam diskursus nasionalisme, muncul pro dan kontra terhadap kekuatan dan relevansinya untuk masa ini yang membuahkan sikap pesimisme dan optimisme. Tulisan ini mencoba menelusuri kembali makna nasionalisme dalam lintasan sejarah (terutama Indonesia) untuk selanjutnya melihat sejauh mana relevasnsinya bagi Indonesia sekarang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Searching...
Custom Search