Wednesday, January 21, 2004
Demokrasi Tanpa Demokrat
Sosiolog Ralf Dahrendorf dalam artikel Democracy Without Democrats menilai definisi Popper tentang demokrasi tidaklah membantu ketika ia berhadapan dengan pertanyaan apa jadinya jika yang digusur dari kekuasaan percaya akan demokrasi, sedangkan mereka yang menggantikannya tidak? Apa jadinya, dengan kata lain, jika orang-orang "yang salah" terpilih?.
Monday, January 05, 2004
Kisah Pesulap India yang Menegakkan Seutas Tali
Pernah dengar cerita ini: seorang fakir India menyulap seutas tali jadi tegak menuju langit di udara hingga tak terlihat. Lalu seorang bocah 6 tahunan memanjat "tiang" tali itu hingga 30-40 kaki dari tanah. Tak lama kemudian, tali itu lenyap. Cerita itu dikisahkan oleh sepasang wisatawan Amerika yang baru kembali dari India dan dimuat di Chicago Daily Tribune, 8 Agustus 1890. Beberapa bulan kemudian, editor koran itu baru menyadari bahwa cerita itu bohong dan dua wisatawan itu tak pernah ada. Tapi, telat, cerita itu terlanjur dicetak di koran-koran dan jurnal di seluruh dunia. Anda barangkali satu dari jutaan orang yang mempercayainya, bukan? Cerita itu dibongkar Peter Lamont dalam bukunya, The Rise of the Indian Rope Trick.
Kutukan Diah Ayu
Itu hari paling kelabu dalam sejarah kolonial. 142 orang Belanda totok mati dalam sehari pada 1878. Pelakunya Diah Ayu si tukang masak. Surat kabar saat itu hanya melaporkan mengenai "kematian-kematian wajar yang mencurigakan" di sekitar Batavia. Itulah Kutukan Dapur kata Eka Kurniawan.
Membunuh Freud
Dengan Interpretation of Dreams, Freud telah menarik sains jatuh ke dalam lenggangan mistiknya. Yap, kemenangan Freud telah menjadi bencana. Psikonalisa telah mensubversi hakikat rasionalitas Barat, mengganti sebuah wacana haram jadah bagi konvensi dialog yang menghargai fakta yang dipelihara peradaban sejak Socrates. Todd Dufresne mencoba mengidentifikasi ekses pascastrukturalisme dan pascamodernisme dalam Killing Freud: 20th-century culture and the death of psychoanalysis.
Saturday, December 27, 2003
The Man Behind The Mall
Seperti Freud, arsitek Victor Gruen (1903-1980) adalah Yahudi sekular yang melarikan diri dari Vienna menghindari Nazi. Bedanya, Gruen--dulu bernama Victor Gr�nbaum--berurusan dengan arsitektur dan mengubah lanskap Amerika dengan bangunan ciptaannya. Dia adalah bapak mall modern dengan gagasan untuk menjadikan mall sebagai substitusi pusat kota. Tapi, pragmatisme ekonomi mengubah mall jadi raksasa ganjil di tengah kota. Hmmm, tapi dia punya banyak gagasan lain, di antaranya melarang mobil berkeliaran di jalan-jalan utama kota. Mungkin rada mirip dengan gagasan Sutiyoso bikin aturan 3 in 1 di Jalan Sudirman demi busway impiannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Searching...
Custom Search