We're writing to remind you that Yahoo! GeoCities, our free web site building service and community, is closing on October 26, 2009. On October 26, 2009, your GeoCities site will no longer appear on the Web, and you will no longer be able to access your GeoCities account and files.
Friday, October 16, 2009
Geocities Tutup, Ebook Hilang
Sebentar lagi, Geocities, layanan hosting Yahoo!, akan ditutup. Tepatnya pada 26 Oktober nanti. Ini surel dari pengelolanya:
Wednesday, October 07, 2009
Buket Biru oleh Octavio Paz
Tak ada masyarakat tanpa puisi, tapi masyarakat tak pernah bisa dipahami sebagai puisi, karena dia tidak puitik. Kadangkala dua istilah itu berusaha bercerai, tapi tak bisa.
Octavio Paz Lozano (31 Maret 1914-19 April 1998) adalah pengarang dan diplomat Meksiko yang menjadi pemenang Nobel Sastra pada 1990. Semula dia penganut komunisme, lalu berubah menjadi kiri demokrat "liberal".
Berikut ini salah satu cerita pendeknya yang dimuat di Minggu Pagi No. 16 Th. 55 Minggu III, Juli 2002.
Tuesday, October 06, 2009
Kebohongan by Nawal el-Sadawi
Nawal el-Sadawi adalah seorang sastrawan wanita Mesir yang karya-karyanya telah mampu menembus batas-batas dunia. Tulisan-tulisannya sebagian besar mengangkat persoalan-persoalan perempuan (feminis). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Seperti: Perempuan di Titik Nol, Matinya Sang Penguasa, Memoar Seorang Dokter Perempuan, serta Catatan dari Penjara Perempuan.
Berikut ini salah stu cerita pendeknya yang pernah dimuat Republika hampir satu dekade lalu.
Berikut ini salah stu cerita pendeknya yang pernah dimuat Republika hampir satu dekade lalu.
Monday, October 05, 2009
Njoto dan Puisi Cak
Majalah Tempo edisi pekan ini menurunkan laporan khusus tentang Njoto, Wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia. Selain jago meniup saksofon, Njoto juga pandai menulis puisi.
Di bawah ini saya salin salah satu puisinya yang dimuat di Harian Rakjat pada tahun 1962. Puisi ini juga masuk dalam Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan dan terbit pada September 2008.
Selamat menikmati...
Variasi Cak
Cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak
penari-petani menari
di Blahbatu sini
mata menari perut menari
menuntut merdeka dan nasi
cak-cak
cak-cak-cak-cak
satu bedil
satu cangkul
cak-cak
cak-cak-cak-cak
imperialisme
kananbaru
feodalisme
sikepalabatu
kita tinju
satu persatu
cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak
Blahbatu, Maret 1962
Di bawah ini saya salin salah satu puisinya yang dimuat di Harian Rakjat pada tahun 1962. Puisi ini juga masuk dalam Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan dan terbit pada September 2008.
Selamat menikmati...
Variasi Cak
Cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak
penari-petani menari
di Blahbatu sini
mata menari perut menari
menuntut merdeka dan nasi
cak-cak
cak-cak-cak-cak
satu bedil
satu cangkul
cak-cak
cak-cak-cak-cak
imperialisme
kananbaru
feodalisme
sikepalabatu
kita tinju
satu persatu
cak-cak
cak-cak-cak-cak
cak-cak
cak-cak-cak-cak
Blahbatu, Maret 1962
Friday, August 07, 2009
Rendra, Sang Kepala Suku Naga
Sepuluh tahun lalu saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Rendra di padepokan Bengkel Teater di Citayam, Depok, Jawa Barat. Saat itu dia sedang menyiapkan pementasan drama Suku Naga, dua puluh tiga tahun setelah karyanya itu dipentaskan pertama kali di TIM.
Itulah terakhir kali saya ngobrol begitu lama dengannya, dari menjelang malam hingga Subuh menjelang. Kami berbincang-bincang ke mana-mana. Dia bicara dari teater sampai puisi, dari politik sampai ekonomi, dari sejarah tahu-tempe hingga kebudayaan. Sesekali kami makan pisang goreng yang dihidangkan Ken Zuraida.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Searching...
Custom Search