Tuesday, July 26, 2011

Arsip: Dari Kaligrafi ke Seni Rupa


Belakangan ini Seni Rupa Indonesia disemarakkan oleh berbagai pameran kaligrafi Islam. Perdebatan masalah syariat tentang batas-batas seni Islam dianggap sudah selesai. Kaligrafi pun bergerak ke seni rupa.


Ada sebuah bingkai kayu berukuran 90 X 90 cm tergantung di dinding bersebelahan dengan beberapa bingkai lain yang lebih kecil. Latarnya berupa kain karung dengan bilah-bilah kayu bersilang vertikal dan horisontal di depannya.

Di atasnya bagian kanan sebidang kayu dengan alur yang jelas melintang tegak dengan sebuah batu akik menempel. Di bidang itu tertulis dengan warna merah penggalan Surat Ibrahim ayat 7 dengan terjemahannya. Sedang sebelah kirinya tampak seutas tali tambang menjalini bilah kayunya. Beberapa paku menancapi tali dengan noda merah di tempat tancapan seolah berdarah.

Karya yang di pajang di sebuah galeri mini tak bernama di Jalan Masjid I/19 Pejompongan, Jakarta, ini berjudul Antara Syukur dan Kufur. Sebuah kontras antara doa syukur dan kekerasan seperti tersaji dalam simbol-simbol yang cukup terbaca.

Kaligrafi Yoesof

Pameran tunggal Seni Rupa Kaligrafi Yoesoef Effendi ini berlangsung dari hingga 18 Januari nanti. Belasan karya dipanjang, sebagian sudah laku terjual dengan rentang harga 400 ribu-15 juta rupiah. Perupa yang dulu menggeluti seni lukis ini sekarang menerjuni kaligrafi. "Kaligrafi Arab itu indah," katanya. "Ada sesuatu yang lain dari sekedar lukisan. Saya melihat seni lukis biasa terbentur pada suatu kekurangan, dan menemukannya setelah membuat kaligrafi," ungkapnya.

Pengasuh Bentara Budaya Jakarta, Ipong Purnomo Sidhi, melihat lukisan-lukisan Yoesoef punya kemampuan dalam menggabungkan elemen-lemen kolase seperti batu, pasir, kayu, akik, dan lain-lain. "Karyanya sangat layak untuk lebih memberi aksentuasi di saat reformasi yang sedang terjadi, juga sangat pantas untuk menyambut bulan suci Ramadhan dan Lebaran, sebagai pengingat agar hidup kita lebih bermakna daripada sebelumnya," tulisnya dalam catatan kecil pameran.

Sementara perupa Firdaus Alamhudi yang mengkhususkan diri dalam kaligrafi itu melihat satu keberhasilan Yoesoef. "Yoesoef sudah menemukan bentuk pengungkapan diri yang khusus dan unik, yang berbeda dari pelukis lainnya," kata pelukis yang beberapa kali telah berpameran di luar negeri ini.

Deretan karya Yoesoef sebenarnya memetakan ragam karya yang ada. Semua kaligrafi Arab dengan kutipan-kutipan ayat suci Al Quran di sana muncul dalam berbagai gaya lukisan. Dari gaya standar kaligrafi yang mengandalkan penyusunan huruf Arab seperti Hamdalah dan warna hingga bentuk-bentuk tiga dimensi dengan berbagai elemen.

Menuju Seni Rupa

Di Jakarta sekarang setidaknya ada dua pameran kaligrafi, satu di Anton's Gallery di Cilandak dengan beberapa perupa, dan kedua pameran tunggal Yoesoef Effendie di daerah Pejompongan. Sepanjang 1998 cukup banyak pameran kaligrafi yang digelar.

Momentum Ramadhan memang sering dipilih untuk menggelar karya kaligrafi dan seni Islami. Bila kita tengok ke Ramadhan tahun lalu, pameran itu malah digelar di World Trade Center Jakarta. Perupa-perupa dari berbagai kota memajang karyanya. Karya salah satu pionir kaligrafi Indonesia semacam Sadali (alm.) pun turut digelar. Perupa lain seperti Firdaus Alamhudi, Amri Yahya, dan Popo Iskandar juga layak dicatat, terutama perupa Surabaya yang sampai saat ini diakui kehebatan pengungkapan dan sapuan kuasnya, Amang Rahman.

Dalam sejarahnya Indonesia sudah cukup lama mengenal kaligrafi. Namun untuk masa yang cukup panjang, kaligrafi hanya sebatas ornamen arsitektur masjid atau mushola saja. Belum banyak seniman yang cukup serius menggarap ranah ini. Meski beberapa seniman Indonesia yang cukup ternama sempat mampir ke sana, seperti pelukis Affandi (alm.).

Di masyarakat sendiri kaligrafi umumnya dikaitkan dengan karakter keislaman yang khas. Walhasil, kaligrafi selalu dihubungkan dengan ibadah, atau bahkan mistik. Lembar kartu pos atau kartu lebaran misalnya lebih sering mengambil objek masjid atau kota Mekah ketimbang kaligrafi.

"Dulu bahkan kaligrafi disembunyikan di kamar tidur. Untuk mengusir kejahatan dan mendapat mimpi yang indah barangkali," komentar Firdaus. Baru belakangan menurutnya kaligrafi Islam dipajang di tempat terhormat, seperti ruang tamu.

Meski seni kaligrafi terus berkembang, namun di permukaannya baru sekitar satu dekade terakhir saja kesenian ini mendapat tempat. Bisa jadi ini terkait dengan mulai adanya angin segar ke pihak Muslim Indonesia. Ini ditandai dengan misalnya berdirinya Museum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah.

Hal lain adalah karena dulu masalah syariat yang terkait dengan kaligrafi masih jadi perdebatan. Seperti bolehkah menulis ayat suci di atas tulang, kayu, besi, atau benda-benda lain yang umumnya dipakai dalam seni rupa? Bolehkah memasukkan objek-objek mahluk hidup dan manusia dalam melukis kaligrafi?

Perdebatan ini mengacu pada dunia Arab yang menggunakan hukum Islam, penerapannya sampai pada ekspresi seni. Sehingga banyak hal dilarang. Namun nampaknya belakangan ini perdebatan itu sudah bisa diselesaikan.

"Perdebatan itu sudah selesai. Hal ini mungkin karena masyarakat Indonesia punya kemampuan untuk menerima keragaman yang ada. Indonesia itu plural, dan kaligrafi di Indonesia itu unik jadinya," kata Firdaus.

Di Arab Saudi sendiri ekspresi seni mulai lebih terbuka. "Saya sendiri menerima pesanan untuk melukis wajah para bangsawan Saudi, padahal dulu tidak mungkin karena belum ada fatwanya kata mereka," cerita Firdaus yang melukis dengan medium bulu.

Perkembangan yang patut dicatat adalah keluarnya kaligrafi dari batasan gaya kufi atau kursif yang umum berkembang di Timur Tengah. Kaligrafi bergerak kearah seni rupa.

Pengungkapannya sudah masuk ke tema kerohanian. Misalnya pada lukisan-lukisan Amang Rahman yang lembut dan mengungkapkan dimensi kerohanian, tanpa perlu kaligrafi secara eksplisit. Bahkan perupa Islam di Jawa Barat pernah tampil dengan seni instalasi. Namun, "Kaligrafi Islam nantinya akan jadi seni rupa plus, berada di depan yang lain," kata Firdaus optimis. (Kurniawan)

***

Kaligrafi Kufik dan Kursif

Sejak awal abad ke-14 kaligrafi telah menjadi medium yang paling penting dalam kesenian Arab dan budaya Islam. Kaligrafi sendiri berkembang dari gaya penulisan Arab dalam dua keluarga besar, kursif dan kufik. Gaya kufik adalah penulisan yang kering, sedang kursif bergaya campuran. Keduanya sudah ada jauh sebelum Islam.

Baru setelah Islam, di bawah Umayah dan Abbasiyah, penulisan ini bermuatan religius dan berfungsi dakwah. Abu Ali Muhammad Ibnu Muqlah (wafat 940) menjadi kaligrafer di Baghdad pada abad awal. Abu Ali kemudian mengembangkan penulisan pertama dengan aturan proporsional yang ketat dan standar.

Kota Kufah berdiri di Irak di tahun 641 M. Kota ini tumbuh pesat dari kamp tentara jadi kota pemukiman dengan kegiatan kebudayaan yang vital. Salah satu kesenian yang berkembang adalah penulisan Arab dalam gaya yang lebih indah dan elegan yang dikenal sebagai Kufik atau Kufi.

Kufi mengombinasikan persegi empat dan garis kaku di satu sisi dan bentuk lingkaran tebal dan padat. Goresan vertikalnya pendek sementara goresan horisontalnya cenderung panjang dan lebar. Kufi mencapai kesempurnaanya di pertengahan kedua abad ke-8 dan mendorong upaya awal pengembangan kaligrafi Arab.

Kufi awal berupa tulisan Arab standar yang biasa dijumpai dalam buku Al Quran atau teks resmi berbahasa Arab. Pada perkembangannya muncul Kufi Timur. Gaya ini bercirikan pada kecenderungan untuk membentuk belah ketupat, menekankan aspek geometris, dan lebih kaku. Gaya ini lebih banyak digunakan untuk buku kaligrafi daripada arsitektur, tapi sangat populer pada keramik.

Kufi berdaun memanfaatkan goresan tebal dengan ujung-ujung berbentuk kerucut kecil seperti daun-daunan. Ornamen ini ditambahkan pada lingkaran goresan. Gaya ini menjadi gaya paling populer pada inskripsi arsitektural sejak abad ke-10.

Kufi terjalin mirip dengan kufi berdaun, tapi dengan garis-garis vertikal yang ditarik tinggi dan saling dikawinkan pada dua garis berdekatan oleh sebuah pola bunga. Gaya ini berkembang di abad ke-11 dan banyak memodifikasi bentuk ornamen. Komposisi kaligrafi kemudian menjadi lebih kompleks.

Kufi persegi adalah gaya kufi yang sederhana, hanya mengobah kufi standar ke dalam bentuk persegi-segi, sehingga terkesan kaku dan tegas. Gaya yang berkembang di abad 13 dan 14 ini bertentangan dengan tren yang sedang berkembang kala itu yang lebih kompleks. Gaya ini paling sering dipakai dalam arsitektur. (Kurniawan)

Artikel ini diterbitkan pertama kali di ADIL, edisi 16/67/1998


No comments:

Post a Comment

Searching...

Custom Search