Monday, January 20, 2003

Etika Global

Hans Kung menyatakan tak akan ada tatanan baru tanpa sebuah etika dunia yang baru; sebuah etika global. Ia mendefinisikan etika global sebagai sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan oleh semua sistem kepercayaan (agama) meskipun terdapat perbedaan dogmatis, dan yang sesungguhnya bisa juga disumbangkan oleh kaum non-beriman (ateis). Lalu, bagaimana mencapai konsesus itu untuk membangun etika global?.

Friday, January 10, 2003

Dapatkah Musik Pop AS Memikat Arab?

Amerika akan mengeskpor antologi tulisan pengarang Amerika ke Arab untuk mempropagandakan bahwa Amerika itu beragam dan tak begitu jahat seperti dikabarkan media Arab selama ini. Amerika seharusnya mengikuti cara pemerintah-pemerintah Arab yang sadar bahwa musik adalah bentuk ekspresi yang paling kuat, bukan buku. Itu sebabnya mengapa mereka memakainya sebagai propaganda sekaligus melarangnya.

Teknofobia Tolkien

Kalau JRR Tolkien menyaksikan film Lord of the Rings: The Two Towers, pastilah dia kecewa berat, karena sebenarnya Tolkien sangat cemas pada yang namanya teknologi robotik dan skeptis terhadap modernisme. Dia lebih suka bernostalgia ke alam pedesaan Inggris yang tenang yang tidak terganggu rel kereta api dan derum mobil, seperti hidup para Hobbit di kampungnya yang damai. Itulah teknofobia Tolkien.

Kebudayaan Daerah dan Sastra Indonesia

Sastra bukan sekadar latar. Ia berisi tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa, problema-problema, dan tentu suasana serta alur beserta konfliknya. Masing-masing unsur tersebut bisa ada bisa tidak, bisa dominan bisa sekadar membayang. Namun, Manusia adalah bagian yang tidak bisa dihilangkan dari sastra. Bahkan, pada sajak-sajak paling liris dan imajis pun kita akan menemukan intensi pada manusia. Hanya manusia dan yang mengacu kepada manusia yang menjadikan karya sastra teguh sebagai karya sastra. Maka di tengah kecenderungan memilih Indonesia atau memilih daerah, sastra tidak akan mendapat apa-apa dari keduanya jika tidak melibatkan unsur terpenting, yakni hadirnya manusia. Demikian Agus R Sarjono.

Proses Osmosis Kebudayaan Indonesia

Peneliti budaya Indonesaia, Claire Holt, wafat pada 1970 dengan meninggalkan Art in Indonesia: Continuities and Change (1967), sebuah karya yang boleh dibilang magnum opus. Fokus utama karyanya adalah melacak benang-benang utama kontinuitas, diskontinuitas, perubahan-perubahan gaya atau perasaan-perasaan dalam struktur sejarah seni di Indonesia, dari masa prasejarah sampai modern. Proses dinamika sejarah kesenian Indonesia bagi Holt adalah semacam proses osmosis kebudayaan yang terus-menerus. Istilah osmosis itu juga digunakan oleh Denys Lombard, dalam karya monumentalnya, Nusa Jawa: Silang Budaya. Seno Joko Suyono mencoba Membaca Ulang Claire Holt.

Searching...

Custom Search